Monday, September 24, 2012

KLASIFIKASI

KLASIFIKASI

Keanekaragaman yang ada di dunia ini sangat banyak sekali, baik dalam bentuk, ukuran, struktur, fimgsi dan yang lain. Untuk memudahkan mempelajari tumbuhan yang sangat beraneka ragam dari sifat dan ciri yang ada pada tumbuhan itu maka sadar atau tidak sadar manusia menggolong-golongkan tumbuhan yang ada menurut kepentingannya masing-masing. Penggolongan ini didasarkan dari sifat dan ciri dari keanekaragaman tumbuhan itu sendiri. Adapun tujuannya mencari kesamaan sifat dan ciri pada keanekaragaman tumbuhan tersebut. Klasifikasi bertolak pada kesertagaman di dalam keanekaragaman oleh karena itu dapat dimengerti pada tumbuhan yang memiliki keseragaman yang lebih besar merupakan kelompok-kelompok yang besar pula yaitu dari dunia tumbuhan sampai individu.


l.  Batasan
Klasifikasi adalah proses pengaturan tumbuhan dalam tingkat-tingkat kesatuan kelasnya yang sesuai  secara ideal. Menurut Rideng (1989) klasifikasi  adalah pembentukan    takson-takson    dengan    tujuan    mencari    keseragaman    dalam keanekaragaman. Dikatakan pula bahwa klasifikasi adalah penempatan organisme secara berurutan pada kelompok tertentu (takson) yang didasarkan oleh persamaan dan perbedaan. Sedangkan (Tjitrosoepomo; 1993) mengatakan bahwa dasar dalam mengadakan  klasifikasi   adalah   keseragaman,   kesamaan-kesamaan   itulah   yang dijadikan dasar dalam mengadakan klasifikasi. Jadi setiap kesatuan taksonomi manpunyai sejumlah kesamaan sifat dan ciri. Kesatuan taksonomi yang anggotanya menunjukkan kesamaan sifat dan ciri yang banyak tentulah merupakan unit kesatuan Itaksonomi yang lebih kecil dibandingkan dengan kesatuan taksonomi yang anggotanya menunjukkan kesamaan yang lebih sedikit. Klasifikasi ini dicapai untuk menyatukan golongan-golongan yang sama dan memisahkan golongan-golongan yang berbeda. Hasilnya merupakan proses pengaturan yaitu suatu sistem klasifikasi.

2. Klasiflkasi dan Masalabnya
Para mahasiswa dan guru-guru di SMA banyak mengalami permasalahan dalam klasiflkasi tumbuhan, mengingat banyaknya macam atau cara klasiflkasi antara satu orang ahli dengan ahli lain yang bermacam-macam:
1.   Keanekaragaman klasifikasi ini disebabkan karena tumbuhan yang diklasiflkasikan begitu banyak sehingga akan menghasilkan klasifikasi yang berbeda-beda pula.
2. Seorang ahli botani satu dan ahli botani yang lain dalam membuat klasifikasi menggunakan dasar dan tujuan yang berbeda satu sama lain.
3. Seorang ahli botani satu dengan ahli botani yang lain mempunyai kemampuan atau pengetahuan yang berbeda dalam hal membuat klasifikasi.
4.   Seorang ahli botani satu dengan ahli botani yang lain mempunyai interes dalam mengambil putusan, pertimbangan terhadap pemilihan sifat dan ciri yang dipakai dalam klasifikasi.
5.  Adanya revisi dan perubahan peraturan tata nama menyebabkan hasil klasifikasi berbeda.
6.  Bahan dan data antara ahli botani satu dengan ahli botani yang lain berbeda-beda, ada yang lengkap dan ada yang kurang.
7.   Adanya taksonomi percobaan yang menggunakan disiplin ilmu pengetahuan yang lain seperti palinologi, biokimia, sitologi, anatomi, fisiologi, fitogeografi, ekologi embriologi akan menambah sifat dan ciri atau melengkapi klasifikasi yang ada.

3. Unit-unit Klasiflkasi

1. Individu, kesatuan organik yang paling sederhana dalam sistem alam raya makhluk hidup, yang mempunyai ciri utama sifat keautonomian fisiologi.

2. Populasi, sekelompok individu yang semacam, mempunyai persamaan-persamaan umum dan menghuni tempat yang sama pada saat bersamaan.

3 Biotipe, suatu populasi yang individu-individunya mempunyai susunan genotipe yang sama.

- Apomiksis, yaitu populasi yang terjadi karena apogami yaitu  perkembangbiakan yang tidak melalui pembuahan individu.

-    Klon, suatu populasi yang merupakan keturunan vegetatif dari suatu individu.

4. Forma, suatu populasi yang terdiri dari beberapa biotipe yang terdapat secara sporadik dalam populasi jenisnya, tanpa mempunyai pola persebaran yang jelas baik secara lokal maupun kawasan dan berbeda dari kelompok biotipe jenis yang sama dalam beberapa sifat morfologi.

5. Varietas, suatu populasi yang terdiri dari beberapa biotipe dengan sifat-sifat morfologi yang jelas, serta mempunyai daerah persebaran secara lokal yang tegas dalam daerah persebaran populasi jenisnya.

6. Anak jenis, suatu populasi dari beberapa biotipe yang mempunyai keluasan persebaran yang jelas berbeda dengan daerah persebaran jenisnya dengan sifat-sifat morfologi yang berbeda pula.

7. Jenis, suatu kesatuan yang dapat dikenal secara morfologi, yang terdiri dari populasi yang diperkirakan dapat saling kawin sesamanya secara bebas, untuk menghasilkan keturunan yang menyerupai tetua-tetuanya.

8. Marga, suatu takson yang mencakup sejumlah jenis yang menunjukkan persamaan dalam struktur alat reproduksinya.

9.   Sulcu, suatu takson yang mencakup sejumlah marga dengan jenis-jenis yang dianggap berasal dari nenek moyang yang sama.

10. Bangsa, suatu takson yang mencakup suku-suku yang erat hubungan kekerabatannya satu sama lain.

11.   Kelas, suatu takson yang mencakup bangsa-bangsa.

12.   Divisi, suatu takson yang mencakup kelas-kelas.

Catatan: Kultivar hanya diketahui bentuk yang dibudidayakan, tetapi tidak
diketahui dalam bentuk lainnya.                                                                    

Kategori dibagi menjadi:

1.   Kategori mayor

Kategori mayor, terdiri atas takson marga ke atas yaitu marga, anak tribus, tribus, anak suku, suku, anak bangsa, bangsa, anak kelas, kelas, anak divisi, divisi dan dunia tumbuhan.

2.   Kategori minor

Kategori minor, terdiri atas takson dibawah marga sampai jenis yaitu anak marga, seksi, anak seksi, deret, anak deret dan jenis.

3.   Kategori di bawah jenis

Kategori dibawah jenis, terdiri atas anak jenis, varietas, anak varietas, forma, anak forma dan individu.

5. Pertelaan

Hasil akhir penelitian seorang taksonom adalah menyimpulkan dan menentukan batasan-batasan dan ruang lingkup takson-takson yang telah diteliti. Hasil pelaporan yang sudah diamati dan dianalisis sifat dan ciri dari takson-takson tersebut dilaporkan dalam bentuk pertelaan. Bentuk dan isi pertelaan dituangkan dalam bentuk yang singkat, ringkas dan padat seperti kalau orang menulis telegram. Secara garis besar unrtan umum yang sering dipakai orang seperti pertelaan yang ada dalam buku Flora Malesiana, yaitu dengan urutan yang konsisten dari organ umum menuju organ yang khusus, dari dasar ke ujung, dari bagian luar ke dalam, dan dari organ itu secara umum sampai bagian-bagian yang terinci.

6. Macam-macam Sistem Klasifikasi

6.1. Klasifikasi Empirik

Klasifikasi empirik yaitu penggolongan tumbuh-tumbuhan yang tidak memperdulikan tumbuhan itu sendiri, jadi merupakan suatu penggolongan yang tidak didasarkan pada sifat dan ciri yang dimiliki tumbuhan tersebut.

6.2. Klasifikasi Rasional

Klasifikasi rasional merupakan suatu klasifikasi yang betul-betul mempunyai hubungan langsung dengan tumbuhan yang diklasifikasikan, dengan menggunakan sifat dan ciri yang dimiliki tumbuhan tersebut sebagai dasarnya.

Klasifikasi rasional dibagi menjadi: klasifikasi praktis, klasifikasi buatan, klasifikasi fenetik, klasifikasi filetik dan klasifikasi alamiah.

6.2.1. Klasifikasi Praktis

Klasifikasi ini sering disebut sebagai klasifikasi khusus, sebab digunakan untuk memenuhi keperluan tertentu. Contoh : klasifikasi tanaman serat, obat-obatan, gulma, penghasil getah.

6.2.2. Klasifikasi Buatan

Hampir semua sistem klasifikasi dahulu adalah klasifikasi buatan. Adapun tujuan klasifikasi ini untuk mempermudah pengenalan, dasamya hanya satu atau dua ciri-ciri morfologi yang mudah dilihat. Contoh: Theophrastus (370-285 SM) mengelompokkan tumbuhan berdasarkan perawakan, yaitu terbagi menjadi pohon, semak, semak rendah dan herba. Demikian juga tumbuhan dikelompokkan berdasarkan umur, yaitu tumbuhan berumur satu tahun, dua tahun dan berumur panjang (tahunan).

7.2.3. Klasifikasi Fenetik

Klasifikasi ini didasarkan pada kekerabatan yang ditunjukkan atau ditentukan oleh banyaknya persamaan-persamaan yang terlihat.

Klasifikasi ini pertama kali disusun oleh Laurent de Jussieu (1778-1836). Laurent membagi dunia tumbuhan menjadi:

1.  Acotyledoneae, yaitu tumbuhan yang tidak mempunyai kotiledon di dalamnya termasuk jamur, lumut, ganggang dan paku-pakuan.

2.   Monocotyledoneae, yaitu tumbuhan yang mempunyai satu kotiledon.

3.  Dicotyledoneae,   yaitu   tumbuhan   yang   mempunyai   dua   keping

kotiledon.

6.2.4. Klasifikasi Filetik (filogeni)

Sistem klasifikasi ini berlaku sejak terbitnya buku yang berjudul The Origin of \ Species dan diterimanya teori evolusi Charles Darwin. Klasifikasi ini menekankan keeratan hubungan kekerabatan nenek moyang takson-takson satu sama lain. Jadi ada sifat-sifat yang dianggap lebih primitif dan ada sifat-sifat yang dianggap lebih maju. Kecondongan evolusi sifat dan ciri-ciri terjadi:

1.   reduksi

2.  perfusian

3.   perubahan simetri

Pada tahun 1883 August Wilhem Eichler (1839-1887) mengumumkan suatu sistem klasifikasi yang pengaruhnya sampai saat ini yaitu dia membagi dunia tumbuhan menjadi dua.

1. Cryptogamae, merupakan tumbuh-tumbuhan yang alat perkembang-biakannya tersembunyi, yang termasuk golongan ini adalah:

-    Thallophyta (Fungi dan Algae)

-    Bryophyta (Musci dan Hepaticae)

-    Pteridophyta (Equisitinae, Lycopodinae, Filicinae)

2. Phanerogamae; mereduksi tumbuh-tumbuhan yang alat perkembangbiakannya tidak tersembunyi meliputi:

-   Gymnospermae

-   Angiospermae

6.2.5. Klasifikasi Alamiah

Klasifikasi ini dikatakan alamiah, karena sistem klasifikasi ini mencerminkan keadaan yang sebenamya seperti terdapat di alam, dan serba guna karena banyak pemyataan kekerabatan yang dimiliki kesatuan-kesatuannya, sehingga banyak memiliki sifat-sifat yang dapat diramalkan. Michael Adamson (1727-1806) adalah orang yang pertama kali mencetuskan dasar tentang cara-cara untuk mencapai klasifikasi alamiah, ialah dengan jalan mengikutsertakan, memperhitungkan dan memperlakukan secara sama sifat dan ciri yang dimiliki tumbuh-tumbuhan termasuk sifat-sifat renik dan sifat dan ciri di luar morfologi.Tumbuh-tumbuhan yang mempunyai kesamaan sifat dan ciri terbesar dikelompokkan bersama-sama dengan memperhatikan fakta-fakta evolusi yang sesuai, sehingga hasilnya dapat ditafsirkan dengan istilah-istilah filogeni.

7. Sejarah Perkembangan Klasifikasi Tumbuhan

7.1. Periode Sistem Habitus (perawakan)

Periode ini sistem klasifikasi buatan didasarkan atas perawakan atau bentuk keseluruhan dari tumbuhan.

Contoh sistem klasifikasi ini adalah :

1.  Theophrastus murid Aristoteles (370 - 285 SM), membagi tumbuhan berdasarkan bentuk dan tekstur menjadi pohon, semak, semak rendah, herba. Dan dia juga membagi tumbuhan berdasarkan umur yaitu, berumur 1 tahun, tahun dan tahunan (lebih 2 tahun).

2.  Jerome Doch (1498-1554), membagi tumbuhan menjadi herba, semak dan pohon. la juga berusaha mencari hubungan kekerabatan satu sama lain.

3.   John Ray, membagi tumbuhan atas dasar tumbuhan berkayu, golongan dikotil dan monokotil.



7.2. Periode Sistem Numerik

Periode ini sistem klasifikasi didasarkan atas jumlah dari suatu organ atau bagian tumbuhan. Contoh klasifikasi ini adalah: Carolus Linnaeus (1702-1778), membagi alam tumbuhan menjadi 24 kelas didasarkan atas jumlah, perlekatan dan panjang benang sari. Sistem klasifikasi ini dikenal dengan sistem klasifikasi seksual.

7.3. Periode Sistem Alamiah

Periode ini sistem klasifikasi alami didasarkan atas persamaan bentuk tumbuhan. Contoh klasifikasi ini adalah:

1.  De Jussieu, membagi tumbuhan berdasarkan ada tidaknya kotiledon menjadi Acotyledoneae, Monocotyledoneae dan Dicotyledoneae. Dicotyledoneae dibagi dalam 5 golongan berdasar pada sifat mahkota bunga menjadi apetalae, petalae, monopetalae, polypetalae, dichinae.

2.  Bentham dan Hooker, hasil sistem klasifikasinya dipublikasikan bersama dalam 3 volume dengan judul Genera Plantanan.

7.4. Periode Sistem Filogenetik

Periode sistem klasifikasi ini ditekankan klasifikasi tumbuhan dari yang sederhana sampai yang kompleks, dan sistem ini berusaha menyatakan hubungan kekerabatan genetik dan hubungan dengan nenek moyangnya. Klasifikasi ini didasarkan atas filogeni yaitu dengan mengikutsertakan teori evolusi.

Contoh klasifikasi sistem filogenetik adalah,:

1.   August WilhelmEichler (1834-1887)                   

Eichler mengusulkan sistem yang berdasarkan pehdekatan kekerabatan genetik antartumbuhan tetapi belum sempurna. Eichler menerima konsep evolusi, tetapi dalam pengertian modern belum merupakan sistem filogenetik. Eichler membagi tumbuhan dalam 2 kelompok yaitu Ciyptogamae dan Phanerogamae.

2.   AdolphEngler (1844-1930)

Sistem Engler materinya lebih detail dalam penerapan tata nama kategori takson besar. Tumbuhan berbiji yang disebut Embryophyta Siphonogamae dibagi menjadi Gymnospermae dan Angiospermae. Angiospermae dibagi dalam dua kelas yaitu Monocotyledoneae dan Dicotyledoneae. Dicotyledoneae dibagi dalam anak kelas Archichlamideae (Choripetalae dan Apetalae) dan Metachlamideae (Corolla Gamopetalus).

7.5. Periode Sistem Kontemporer Lain

1.   Alfred Barton Rendle (1865 - 1934)

Sistem Rendle didasarkan pada sistem Engler dan Prantl, ini merupakan salah satu sistem filogenetik modern yang cukup baik dan berarti.

Rendle memperlakukan Dicotyledoneae lebih primitif dibandingkan Monocotyledoneae.

2.   Karl Christian Mez (1866 - 1944)

Karya profesor botani dari Jerman pada tahun 1926 menganalisa reaksi protein untuk melihat hubungan kekerabatan tumbuhan secara genetik.

8. Macam-macam Kunci Determinasi

Permasalahan  yang  dihadapi  oleh  setiap  orang yang menggeluti   dunia tumbuhan  adalah  nama  yang  benar.  Nama yang benar ini  digunakan untuk mengkomunikasikan  hasil   penelitiannya.   Untuk  mengetahui   nama yang benar seseorang hams melakukan identifikasi yaitu penentuan nama yang benar dan penempatannya di dalam suatu klasiflkasi. Untuk menentukan nama tumbuhan yang benar ada dua macam hal yang dihadapi yaitu tumbuhan yang sudah dikenal tetapi belum  diketahui  dan  tumbuhan  yang sama  sekali  belum dikenal  oleh  ilmu pengetahuan. Untuk tumbuhan yang belum dikenal oleh ilmu pengetahuan artinya tumbuhan   ini   setelah  dilakukan  penelusuran  dari  pustaka-pustaka  yang telah diterbitkan atau pada spesimen-spesimen yang ada pada semua herbarium tidak ada atau belum diberi nama. Pemberian nama pada tumbuhan tersebut sesuai atau mengikuti aturan yang ada dalam Kode Internasional Tatanama Tumbuhan. Pada tumbuhan yang sudah dikenal iimu pengetahuan untuk mencari nama yang benar salah satunya menggunakan macam-macam kunci determinasi.

Penggunaan kunci determinasi sering digunakan dalam mendeterminasi tumbuh-tumbuhan, selain bertanya pada seorang ahli, mencocokan gambar pada buku-buku taksonomi atau buku atlas, dengan mengingat tumbuhan yang pemah dikenal, atau mencocokkan dengan spesimen acuan yang tersusun di herbarium-herbarium yang ada.

Kunci determinasi ada bermacam-macam. Ada kunci yang hanya sampai bangsa saja, sampai suku, marga atau jenis dan bahkan sampai varietas. Berdasarkan cara penyusunan sifat-sifat yang harus dipilih maka dikenal tiga macam kunci determinasi.

8.1. Kunci Perbandingan

Dalam kunci perbandingan ini semua takson tumbuhan yang dicakup dan segala ciri-ciri utamanya dicantumkan sekaligus.

8.1.1. Tabel

Kunci perbandingan berbentuk tabel memuat lajur dan kolom yang masing-masing memuat takson tumbuhan dan sifat-sifat dari tumbuhan tadi (atau sebaliknya) merupakan salah satu bentuk kunci perbandingan. Dalam lajur atau kolom yang berisi sifat dan ciri yang dipunyai takson di lajur atau kolom lain, menggambarkan ada tidaknya sifat dan ciri yang dipunyai oleh takson-takson tersebut. Dengan membandingkan ada tidaknya sifat tersebut, maka pendetermmasian dapat dilakukan.

8.1.2. Kartu berlubang

Pada umumnya sistem kartu berlubang mempunyai satu kartu takson serta sejumlah kartu ciri-ciri. Kartu takson memuat lingkaran-lingkaran kecil sejumlah takson yang dicakup yang letaknya teratur. Masing-masing lingkaran memuat nama satu takson atau dengan nomor urut sesuai dengan nomor takson. Setiap ciri mempunyai kartu sendiri-sendiri dan kartu itu memuat lingkaran-lingkaran kecil yang besar dan letaknya seperti kartu takson. Dengan menumpangtindihkan kartu ciri dan kartu takson, yang sesuai dengan ciri yang dimiliki oleh tumbuhan yang akan dideterminasi, maka akhirnya hanya akan ada satu lubang yang terbuka, dengan mengetahui nomor lubang (sehingga nomor lubang sesuai dengan nomor takson), maka pendeterminasian sudah selesai dalam arti lain sudah ketemu nama takson yang dicari.

8.1.3. Kunci Leenhouts

Kunci ini kadang-kadang disebut kunci sinopsis atau kunci padat. Kunci Leenhouts ini untuk mengatasi kunci tabel atau kunci berlubang, karena kesulitan

mempunyai  ciri  penuntun  pertama, juga dari  penuntun-penuntun yang dipisah berjauhan. Dengan demikian unsur-unsur takson yang mempunyai ciri yang sama jadi teratur, sehingga terlihat sekaligus.

8.3. Sinopsis

Kunci sinopsis sebenarnya merupakan kesimpulan suatu sistem klasifikasi yang disajikan secara tertulis.




No comments:

Post a Comment